- Gerakan Bersih, Hati Bersih: OSIS MTsN 1 Kota Banjar Semarakkan Geber Mas di Pusdai
- Momen Istigosah di Pendopo, Kepala Kankemenag Kota Banjar Ajak ASN dan Tokoh Agama Perkuat Iman serta Jaga Kerukunan
- Semarakkan HUT ke-81 RI dan Milad ke-11, Kemenag Kota Banjar Gelar Geber Masjid Serentak 129 DKM
- Haidar, Rizal, dan Rara: Tiga Pramuka Muda MTsN 2 Kota Banjar Siap Ukir Prestasi di Jambore Nasional 2026
- Ditutup Resmi, Jambore Majelis Taklim Kota Banjar Lahirkan 250 Peserta Tangguh
- Rangkaian Milad Kemenag ke-21 dan HUT RI ke-81: Jambore Majelis Taklim Banjar MASAGI Gaungkan Ekoteologi
- Kemenag dan Polres Banjar Gelar Nobar Persib vs Persija, Pererat Silaturahmi Bersama Masyarakat
- Puskesmas Langensari I Gelar Cek Kesehatan Gratis di MIN 2 Kota Banjar, Wujud Deteksi Dini bagi Generasi Sehat
- Sadarkan Murid Sejak Dini, Halaman MTsN 2 Kota Banjar Berubah Jadi Kelas Interaktif.
- MIN 3 Kota Banjar Gelar Story Telling Muhammad Tauladanku: Cerdas dalam Ilmu, Indah dalam Akhlak
Jaga Kualitas Ujian, Kepala Kankemenag Tegaskan Lima Elemen Penting Evaluasi Madrasah

Pataruman (KEMENAG) Dalam upaya menjaga mutu pendidikan madrasah, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kankemenag), H. Ahmad Fikri Firdaus menegaskan pentingnya kualitas penyusunan kisi-kisi dan naskah soal ujian madrasah. Hal tersebut disampaikan saat membuka kegiatan workshop Bimtek Penyusunan Kisi-kisi dan Naskah Soal Ujian Madrasah yang diselenggaran Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kota Banjar di Aula RM. Saung Oemah, Jum’at (13/2).
Menurutnya, ujian madrasah bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan instrumen strategis untuk memastikan ketercapaian kompetensi peserta didik sesuai standar nasional dan karakter khas madrasah. Ia menjelaskan lima elemen penting dalam menjaga kualitas ujian madrasah.
Lima elemen tersebut adalah pertama Evaluasi sebagai Cermin Mutu Pembelajaran. Kepala Kankemenag menekankan bahwa evaluasi bukan hanya alat untuk mengukur hasil belajar siswa, tetapi juga menjadi cermin kualitas proses pembelajaran yang telah berlangsung. Kisi-kisi dan naskah soal yang disusun secara sistematis mencerminkan kedalaman kurikulum, ketepatan indikator, serta integritas akademik guru.
Baca Lainnya :
- Penguatan Regulasi Kepenyuluhan: Langkah Strategis Tingkatkan Mutu Bimbingan Masyarakat0
- Kakankemenag Kota Banjar Tegaskan Dana BOS Bersifat Kolektif Kolegial0
- Kemenag Terima Kunjungan Wakil Wali Kota Banjar, Bahas Sinergi Pembangunan Bidang Agama dan Pendidikan0
- Penyuluh Sambut Bulan Suci, GDI Langensari Gelar Pengajian dan Tahlil Akbar0
- Tanamkan Jiwa Kepemimpinan dan Integritas, MTs Negeri 1 Kota Banjar Gelar Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS)0
“Jika penyusunan dilakukan dengan serius dan terarah, maka hasil evaluasinya akan adil, objektif, dan bermakna. Ujian madrasah harus dipahami sebagai bagian penting dalam menjamin mutu pendidikan, bukan sekadar formalitas administrative, ,” ujar A. Fikri.
Kedua, Profesionalisme Guru. Ia juga menyoroti peran strategis guru sebagai perancang pengalaman belajar, termasuk dalam merancang instrumen evaluasi. Penyusunan kisi-kisi dan soal, lanjutnya, membutuhkan ketelitian, objektivitas, serta pemahaman terhadap taksonomi pembelajaran.
“Soal yang baik tidak hanya menguji kemampuan mengingat, tetapi juga mendorong analisis, sintesis, dan pemahaman kontekstual,” tegasnya.
Ketiaga Integritas dan Akuntabilitas Madrasah. Menurut Kepala Kankemenag kredibilitas madrasah sangat ditentukan oleh integritas dalam pelaksanaan ujian. Proses penyusunan soal harus transparan, terukur, dan sesuai prosedur yang berlaku. Kisi-kisi menjadi pedoman penting agar soal tidak menyimpang dari kompetensi yang telah ditargetkan.
“Naskah soal yang terstandar menunjukkan komitmen kita terhadap keadilan akademik,” katanya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa elemen yang keempat yaitu sinergi kurikulum dan evaluasi yang merupakan dua sisi yang tidak terpisahkan. Kurikulum memberikan arah pembelajaran, sementara evaluasi memastikan arah tersebut tercapai secara optimal.
“Ujian madrasah bukan akhir dari proses, melainkan umpan balik konstruktif untuk peningkatan mutu pendidikan berikutnya,” jelasnya.
Sementara eleman yang kelima adalah Membangun Budaya Mutu di Madarasah. Ia menegaskan bahwa workshop ini merupakan bagian dari pembangunan budaya mutu di madrasah. Budaya mutu tidak lahir dari satu kegiatan, melainkan dari konsistensi dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran.
“Ketika guru terbiasa menyusun soal secara sistematis dan berbasis indikator yang jelas, standar akademik madrasah akan terjaga dengan baik. Langkah ini dinilai sebagai upaya konkret menjaga reputasi madrasah sebagai lembaga pendidikan yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing.” Pungkas A. Fikri.
Kegiatan workshop diikuti 40 orang peserta terdiri dari seluruh karyawan dan tenaga pendidik dilingkungan MAN Kota Banjar.
Kontributor : Aep S.


.png)





.png)

.png)

.png)